Ede Ngaden Awak Bise, Depang Anake Ngadanin

  • Dinas Kebudayaan
  • 28 Juli 2020
  • Dibaca: 705 Pengunjung
Sebagai orang Bali, pasti sudah tak asing lagi dengan kalimat “Eda ngaden awak bisa, depang anake ngadanin.” Terjemahannya "jangan menganggap diri bisa, biar orang lain menilai. Kalimat ini adalah bait pertama dan kedua dari lagu berbahasa Bali, termasuk pupuh ginada untuk sekar alit, pengantar tidur anak-anak. Kalau diartikan lebih luas, makna yang terdapat di bait-bait tersebut, bahwa kita tidak boleh arogan/sombong ketika tahu sesuatu, ini sering digunakan oleh masyarakat Bali khususnya, sebagai acuan mereka dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Namun, jika hanya dimaknai sebagian saja, nilai dalam dua bait tersebut, bisa berpengaruh kurang baik, misalnya banyak anak-anak yang tak mau menonjolkan dirinya karena takut dikatakan sombong. Dalam masyarakat sering terderngar upacan “kapan majunya (orang Bali) kalau selalu mengaku tidak bisa,” atau “ini sebabnya kita selalu kalah dibanding yang lain, karena tidak pernah mau menonjolkan kemampuan yang dimiliki, meski bisa diandalkan.” Sekali lagi, kita tidak bisa melihatnya secara sepotong-sepotong. Lagu ini harus dimaknai secara utuh dari seluruh bait yang ada. Bait lengkapnya adalah sebagai berikut:
.
Eda ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh luu
Ilang luu buka katah
Yadin ririh liu nu peplajahan
.
Terjemahannya :
.
"Jangan mengira dirimu sudah pintar
Biarlah orang lain yang menilai diri kita/menyebutnya demikian
Ibarat sedang menyapu
Sampah akan muncul terus menerus
Kalau sampah habis, masih banyak debu
Biarpun kamu sudah pintar, masih banyak yang harus dipelajari"
.
Lagu ini terkesan begitu polos, lugu, apa adanya, namun penuh makna. Dari setiap baitnya mengandung makna :
.
1. Jangan sombong, mengatakan diri pintar, diri baik, serba tahu dan seterusnya, juga hindari memuji diri sendiri. Orang lainlah yang menilai dan mengatakan bukan diri anda.
.
2. Belajar ataupun tindakan baik apapun yang kita lakukan harus terus menerus. Ibarat orang menyapu, tidak cukup hanya dilakukan sekali saja.
.
3. Tidak ada manusia yang sempurna. Seseorang mungkin pintar dalam ilmu lain.

Repost from : Instagram @pesona_taksubali
Info by : Instagram @calonarangtaksu 
 
Share Post :