Tradisi Ngaga Desa Pedawa Kembali Setelah Hilang Selama 47 Tahun

  • Dinas Kebudayaan
  • 05 Juni 2019
  • Dibaca: 163 Pengunjung

Bali terkenal akan tradisi dan budayanya. Salah satunya Kabupaten Buleleng yang terletak di Bali Utara memiliki begitu banyak tradisi warisan nenek moyang. Salah satunya tradisi ngaga yang terdapat di Desa Pedawa yang sempat hilang selama 47 tahun. Kini tradisi tersebut telah kembali lagi dan kembali dilaksanakan oleh krama setempat. Pelaksanaanya tradisi ini pun dinilai sakral. Krama pangempon Pura Pucak Sari melangsungkan upacara mapiuning sebelum padi gaga ditanam di lahan tegalan. Seluruh krama pun nampak menggunakan pakaian adat saat menanam padi yang dikembangkan tanpa menggunakan banyak air seperti penanaman padi pada umumnya.

Tradisi ini sempat ditinggalkan karena dinilai masyarakat sangat sulit memelihara padi tanpa air. Selain itu sistem penenaman padi tanpa air ini baru dapat dipanen enam bulan sekali. Berbeda jauh dengan padi hybrida yang dikembangkan petani secara umum.

Pada saat prosesi ada yang bertugas membuat lubang dengan bambu runcing, ada juga yang bertugas menanam benih padi gaga di dalam lubang. Uniknya sebelum ditanam benih padi gaga itu dicampur dengan sejumlah benih kacang-kacangan, mulai jagung, kacang kedelai hitam (undis, Red) dan jagung kedu serta obat pemali (campuran dari kunyit, daun endong dan dapdap).  Obat pemali ini bertujuan untuk mengantisipasi tanaman diserang hama saat bertumbuh.

Saat pujawali itu, salah satu sarana utama yang wajib dihaturkan adalah nasi yang berasal dari padi gaga. Nasi tersebut ditambahkan sejumlah lauk dan sayur-sayuran untuk dipersembahkan kepada Ida Bhatara Sri Rambut Sedana yang bersthana di Pura Puncak Sari. Selanjutnya, nasi persembahan itu akan dimakan bersama oleh para penyungsung pura, sebagai simbol nunas bayuh agar diberi kesejahteraan dan kemakmuran.

Sementara itu, usai ngayah menanam padi gaga, seluruh krama akan menutupnya dengan rangkaian nunas pabayuh. Rangkaian prosesi ini adalah acara makan bersama menyantap hidangan yang sudah disiapkan dengan lauk yang sanat sederhana. Hanya nasi, sayur pakis, ikan teri, ikan asin dan kacang. Nasi pabayuh itu pun disantap secara bersama (magibung) dan seluruh krama yang ngaturang ayah wajib ikut bersantap. Nunas pabayuh ini dimaksudkan nunas merta agar selalu diberikan tenaga dalam bekerja. Selanjutnya setelah nunas pabayuh, krama melakukan persembhayangan bersama memohon kepada Dewi Sri sebagai lambang kesuburan untuk menjaga benih yang mereka tanam. Sehingga harapannya enam ke depan dapat dipanen untuk dipakai sarana upacara.

 

 

Share Post :