Bali Berhasil Meraih Juara 1 Pada 4 Cabang Permainan Tradisional Sekaligus

  • Dinas Kebudayaan
  • 12 Oktober 2019
  • Dibaca: 1178 Pengunjung

Pekan Kebudayaan Nasional resmi dibuka pada Senin malam, 7 Oktober 2019 di Istora Senayan, Jakarta. Malam perhelatan akbar kebudayaan mengusung tema “Ruang Bersama Indonesia Bahagia”. Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, gagasan munculnya Pekan Kebudayaan Nasional berawal dari Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. 

Pekan Kebudayaan Nasional merupakan salah satu amanat dari Kongres Kebudayaan Indonesia, yakni menyediakan ruang bagi keragaman ekspresi budaya yang mendorong keragaman interaksi antarbudaya di Indonesia. Acara ini dimulai sejak 7 Oktober hingga 13 Oktober 2019 dan menghadirkan lima kegiatan utama, yakni Pagelaran, Pameran, Konferensi, Kompetisi hingga Pawai Budaya. Kegiatan yang baru pertama kalinya hadir di Indonesia ini melibatkan kurang lebih 58 sanggar/komunitas, 31 seniman/musisi Tanah Air dan 3500 peserta pawai budaya dari 26 Provinsi. 

Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Masyarakat cukup mendaftarkan diri ke laman pkn.kebudayaan.id untuk mendapatkan tiket masuk.Taman budaya yang ikut berpartisipasi antara lain, DKI Jakarta, Lampung, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan hingga Bali. Adapun beberapa kegiatan yang terdapat di Pekan Kebudayaan Nasional diantaranya kerajinan karya seniman, kelompok seni musik gamelan, pernak pernik terkait upacara tradisional, karya seni wayang kulit, karya gambar tentang warisan budaya indonesia, lukisan-lukisan, permainan tradisional, kuliner tradisional dan kekayaan alam dari masing-masing daerah di seluruh Indonesia. 

Dalam kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional ini, Provinsi Bali sendiri telah berhasil meraih juara 1 dan memborong 4 cabang permainan rakyat sekaligus diantaranya hadang, enggrang, lari balok dan lari bakiak yang diwakili oleh Kabupaten Bangli dan Denpasar. Dari Kabupaten Buleleng juga ikut tampil dengan menampilkan pertunjukkan atau atraksi permainan tradisional mengangsing yang diikuti oleh anak-anak dari Desa Gobleg, Kabupaten Buleleng. Tetapi untuk permainan gangsing sendiri tidak dilombakan karena alat gangsing itu sendiri berbeda dengan daerah lainnya. Jadi hanya sebagai pertunjukkan budaya saja. 

 

Share Post :