Obrolan Pagi Bersama Radio Guntur, Berkesenian di Masa Pandemi

  • Dinas Kebudayaan
  • 22 Juli 2020
  • Dibaca: 88 Pengunjung

Selama situasi pandemi ini walaupun sudah memasuki masa new normal tetapi tetap saja tidak ada habisnya untuk dibicarakan. Seperti halnya di bidang kesenian yang selama pandemi covid19 para seniman pun ikut terkena dampaknya yaitu tidak dapat menari atau melaksanakan pementasan sebagaimana biasanya. Membicarakan soal seni dalam kondisi seperti saat ini, radio guntur pun mengundang beberapa narasumber diantaranya Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Gede Dody Sukma Oktiva Askara, S.Sos, M.Si, Ketua Listibya Kabupaten Buleleng Gede Marayana dan salah satu seniman Pande Gede Satria Kusuma Yudha untuk mengetahui bagaimana pendapat mereka ketika masa pandemi covid19 ini mengekang para seniman dalam berkesenian. Dijelaskan menurut seniman Bapak Pande, selama pandemi covid19 para seniman sama halnya seperti sekolah-sekolah, sanggar-sanggar seni yang terdapat di Kabupaten Buleleng juga ditutup sementara untuk dapat memutus rantai penyebaran virus covid19 atau bisa dikatakan lockdown. Tetapi memasuk masa new normal seperti sekarang ini para seniman perlahan mulai bangkit untuk berkesenian kembali tetapi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Bapak Pande pun sudah mulai merasa lega karena memasuki masa new normal sudah mulai perlahan mendapat tawaran pementasan setelah sekian lama libur, "Astungkara sudah mulai mekenyem", katanya. Bapak Pande juga mengatakan, pementasan selama masa new normal pun dilakukan secara daring seperti halnya sekolah-sekolah yang melaksanakan pembelajaran secara daring. Dimana pementasan ini dilaksanakan di rumah saja yang nantinya hasil dari pementasan tersebut akan ditampilkan di media sosial.

Dalam obrolan ini Bapak Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng Gede Dody juga menjelaskan rencana yang akan dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng dimana akan melaksanakan kembali pementasan seni yang tetap mematuhi protokol kesehatan. Pementasan seni tersebut rencana akan dilaksanakan pada akhir Juli dengan menampilkan konsep Dangin Njung dan Dauh Njung. Bapak Gede Dody juga memaparkan rencana untuk para seniman baik seniman tari tradisional maupun seniman modern seperti pemain band misalnya bagaimana agar bisa melaksanakan pementasan yang berpengaruh juga terhadap perekonomian para pedagang kecil. Sebagai contoh misalnya melaksanakan pementasan kecil di sekitar kawasan Pantai Penimbangan, dengan begitu akan berpengaruh juga terhadap para pedangang kecil disekitar sana. Tentunya pementasan ini akan dibiayai oleh pemerintah Kabupaten Buleleng.

Bapak Gede Marayana selaku ketua Listibya Kabupaten Buleleng menerangkan berkesenian pada situasi seperti ini bagaimana kita bisa mengemas sebuah pementasan seni dengan mengikuti budaya atau kebiasaan baru tanpa merubah gaya tarian atau pakem dari tarian tersebut. Maka dengan begitu perlu adanya pendapat dari para seniman bagaimana untuk tidak merubah secara total seni itu sendiri. Beliau mengatakan akan sangat aneh apabila para penari menari dengan menggunakan masker, beda halnya dengan para penabuh yang bisa saja diatur jarak duduknya sesuai aturan new normal. Bapak Gede Marayana juga menegaskan dalam kondisi apapun tetap Budaya Bali merupakan Budaya yang dilandasi dengan Agama Hindu di Bali, jadi apapun kondisinya tetap mempertimbangkan apa yang harus dirubah tanpa meninggalkan pelestarian Adat, Budaya dan Agama Hindu di Bali. 

Share Post :