Pementasan Gong Kebyar Mabarung Pada Bulfest Ketiga Tahun 2019

  • Dinas Kebudayaan
  • 08 Agustus 2019
  • Dibaca: 20 Pengunjung

Pada Buleleng Festival hari ketiga tahun 2019 masih tetap berlangsung adanya pementasan Gong Kebyar mabarung yang selalu dipadati penonton. Sanggar seni yang tampil pada hari ketiga Bulfest di Wantilan Sasana Budaya adalah Sanggar Seni Langen Kerti Budaya dan
Sekaa Gong Eka Wakya Banjar Paketan. 

Sanggar Seni Langen Kerthi Budaya (Sebelah Timur) Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt menampilkan beberapa pementasan yaitu : 

1. Tabuh Kreasi Geger Tunggak Cemara Geseng Kalimat “Tunggak Cemara Geseng” diambil dari nama puri yang ada di desa Lokapaksa, seiring perubahan dari zaman keratin menjadi republic, keberadaan puri ini semakin lama semakin redup bak ditelan bumi. Ditengah keterpurukan itu, seniman local desa Lokapaksa mengangkat kembali sejarah Tunggak Cemara Geseng ini menjadi suatu garapan tabuh kreasi dengan judul “Geger Tunggak Cemara Geseng” untuk dapat ditampilkan dalam even mebarung dauh dan dangin enjung.

Pembina Tabuh : Kadek Widiasa
: I Gusti Bagus Muliawan

2. Tari Kakelik
Tari Kakelik diciptakan bapak Nyoman Durpa, BA pada tahun 1984, tari ini mengambil kisah dari ide cerita I Gede Darna salah seorang tokoh seni di Buleleng, dimana dikisahkan ada burung besar yang selalu memaksa burung-burung yang lebih kecil, oleh karena itu, burung kecil ini bersatu menghimpun kekuatan untuk melawan dan menggempur kesombongan dan keangkaramurkaan si Burung Besar, yang pada akhirnya dalam pertempuran dimenangkan oleh burung kecil.
Tari Kakelik ini membawa pesan bahwa dengan persatuan, kerukunan, ketertiban dan disiplin dalam kehidupan sehari-hari maka tujuan hidup yang harmonis akan tercapai.

Pembina Tari : I Gusti Ayu Mutya Puji Astuti, S.Sn
Pembina Karawitan : Kadek Widiasa

3. Tari Kreasi Agni Krodha
Tari Agni Kroda merupakan tari kreasi putra halus/bebancihan yang menggambarkan pembalasan dendam Dewi Srikandi terhadap Bhisma, dengan ketangkasan memainkan panah.

Penata Tari : I Gusti Ayu Mutya Puji Astuti, S.Sn
Penata Karawitan : Kadek Widiasa

4. Tari Tenun Style Kedis
Tari Tenun desa Kedis merupakan hasil asimilasi, yakni penggabungan dua kultur kebyar yang berbeda, yakni tari Tenun style Denpasar dan kemudian di stilir oleh Ketut Merdana dengan dengan gaya musikalitasnya. Tentu terdapat berbagai macam penyesuaian dari berbagai aspeknya, baik musik maupun vokabuler gerak tariannya. Tari Tenun menggambarkan meggambarkan kegiatan sehari-hari wanita Bali pada zaman dahulu. Cerita yang diangkat dalam tari Tenun ini menggambarkan tentang penenun-penenun wanita yang sedang membuat kain tenun dari alat sederhana. Tari ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa Bali memiliki kebudayaan dan kegiatan yang unik dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, tari Tenun juga berfungsi untuk melestarikan kebudayaan tenun-menenun yang ada di Bali.
Tari Tenun sangat identik dengan gerakan yang khas dari seorang penenun. Dalam penyajiannya, gerakan dalam tarian ini dimulai dari para penenun yang memintal benang, mengatur benang di alat tenun, dan kemudian di akhiri dengan menenun. Sebagian besar gerakan dalam tari masih mengacu pada unsur-unsur tari klasik, tetapi sebagiannya lagi sudah ditambahkan dengan gerak-gerak imitatif yaitu saat penenun mengerjakan pekerjaannya, seperti sedang memintal benang sampai menenun.

Pembina Tari : I Gusti Ayu Mutya Puji Astuti, S.Sn
Pembina Karawitan : Kadek Widiasa

Sedangkan Sekaa Gong Eka Wakya (Sebelah Barat) Banjar Paketan Kecamatan Buleleng menampilkan : 

1. Tabuh Kreasi Pangkaja Tatwa
Ki Barak Panji Sakti, itulah nama raja penguasa Bumi Denbukit, beliau memiliki sebuah kober/selegi pusaka yang bernama Ki Pangkaja Tatwa, dan merupakan bekal perjalan Ki Barak Panji Sakti dari bumi Gelgel menuju bumi Denbukit 1568 Masehi, saat tiba di palemahan Bukit Batukaru (yang merupakan wilayah Denbukit), di tempat ini Ki Barak Panji Sakti beristirahat melepas lelah sambil membuka bekal ketupat. Pada saat itu Ki Barak Panji Sakti sangat haus, melihat tidak adanya sumber air di tempat itu, Ki Barak Panji Sakti langsung menancapkan kober di tempat itu dan munculah air dari ibu pertiwi yang disebut dengan Yeh Ketupat dan menjadi sumber kehidupan di tempat tersebut. Berangkat dari semangat juang Ki Barak Panji Sakti, penata mencoba menuangkan ide garapan dan kreativitas, dengan tidak meninggalkan uger-uger dan jajar pageh Bali Utara. Begitu pula penata mencoba melestarikan warisan adi luhung Ki Barak Panji Sati dan terciptalah sebuah garapan tabuh kreasi dengan judul “Pangkadja Tatwa”

Komposer : Putu Tegeh Kertyasa, S.Pd

2. Tari Legong Tombol.
Tari Legong Tombol adalah salah satu tari legong dengan genre kebyar yang berhasil direkonstruksi oleh Dr. Ida Ayu Wimba Ruspawati, S.ST.,M.Sn guna menyelesaikan penelitian doktoranya. Tari ini diciptakan oleh Wayan Rindi salah seorang maestro Legong dari banjar Lebah, Sumerta Kelod di desa Banyuatis, Buleleng sekitar tahun 1950-an. Kata Legong Tombol terdiri dari dua kata yakni Legong yang berarti tarian, dan tombol yang berarti mahkota simbol keagungan. Tari ini sesungguhnya terklasifikasi ke dalam tari Penyambutan, dan dipergunakan untuk menyambut tamu kepresidenan di istana Tampak Siring pada era Presiden Sukarno.

Penata Tari :
Pembina Karawitan : Putu Tegeh Kertyasa, S.Pd

3. Tari Kebyar Kamajaya
Merupakan sebuah komposisi gerak tari kekebyaran yang ditata atas dasar kecintaan penata terhadap tari kekebyaran Bali Utara yang dinamis, dengan liukan tubuh yang keras, lembut, dan penuh emosional. Dengan iringan gending-gending kuno yang tersusun dengan apik diharapkan dapat membuka kembali memori penonton akan karya-karya tari kekebayaran Bali Utara yang telah dikenal masyarakat secara luas.

Penata Tari : Komang Suarriati, S.Sn
Penata Karawitan : I Made Pasca Wirsutha, S.Sn

4. Tari Palawakya Dangin Enjung
Tari Palawakya merupakan sebuah masterpiece karya Wayan Paraupan atau lebih dikenal dengan sapaan Pan Wandres. Tari ini menuntut kemampuan virtuistik yang tinggi, sebab dibutuhkan 3 keterampilan sekaligus dalam menarikannya yaitu seorang penari dituntut untuk menguasai kemampuan menari, menabuh dan malawakya. Tarian ini mulai dikembangan pada tahun 1963.
Tarian ini mengisahkan seorang pujangga yang sedang membacakan ayat-ayat suci didepan tamu kerajaan.
Pembina Tari : Komang Suarriati
Pembina Karawitan : I Made Pasca Wirsutha, S.Sn

Share Post :