Pementasan Gong Kebyar Mabarung Pada Hari Kelima Bulfest 2019

  • Dinas Kebudayaan
  • 11 Agustus 2019
  • Dibaca: 93 Pengunjung

Pada malam terakhir Buleleng Festival tahun 2019, di Wantilan Sasana Budaya menampilkan pementasan gong kebyar mabarung oleh Sanggar Seni Virhanala dan Sanggar Seni Tripitaka Desa Munduk Kecamatan Banjar. Sanggar Seni Virhanala menampilkan beberapa pertunjukkan yaitu : 

1. Tabuh Kreasi Gelora Sunari
Mendorong generasi muda untuk mencintai budaya miliknya.Hal inilah yg menjadi inspirasi dalam penciptaan tabuh kreasi ini guna membangun semangat para kawula muda untuk mencintai budayanya sehingga garapan gending dan aksen tabuh ini dikemas dinamis, sebagai gambaran semangat pemuda membangun budaya.
Penggarap menggambarkan generasi muda bagaikan bunga yang baru mekar tentunya menawarkan suatu harapan untuk pengembangan seni musik khususnya seni musik karawitan Bali.
Melalui garapan ini dapat kita simak suasana riang gembira yang dituangkan lewat teknik gegedig karawitan yang dikemas apik oleh penata meliputi kakebyaran, gegenderan serta ubit-ubitan sehingga menghasilkan nada yang harmonis dan tidak lepas dari pakem atau jajar pageh penciptaan seni karawitan yang terdiri dari pengawit, pengawak, serta pengecet.
marilah kita nikmati bersama persembahan tabuh kreasi yang berjudul Gelora Sunari.

Komposer : Kadek Widiasa

2. Tari Kebyar Legong
Kebyar Buleleng Dangin Enjung atau lebih dikenal dengan sebutan Kebyar Legong diciptakan oleh I Wayan Paraupan atau lebih dikenal dengan sapaan Pan Wandres. Tari ini merupakan cikal bakal lahirnya tari Trunajaya saat ini. Gede Manik adalah penari pertama dari tari Kebyar Legong yang diciptakan sekiat awal tahun 1930-an. Tari ini adalah tarian yang cukup kompleks karena memasukan berbagai vokabuler gerakan tari yang terbingkai dalam format kebyar secara musikalitas.
Pada suatu saat, Gede Manik menunjukkan jati dirinya sebagai seorang kreator tari. Berorientasi dari tari Kebyar Legong yang sering dibawakannya, ia menggagas karya tari Kebyar Legong versi lain, lebih pendek durasinya namun tetap menunjukkan karakteristik tari yang dinamis. Tari yang bernuansa gelora taruna nan heroik ini tidak mempunyai nama, hanya dikenal sebagai tari kebyar Dangin Enjung. Pada suatu hari, tahun 1950, ketika ditampilkan di depan Bung Karno dan tamu-tamunya di sebuah hotel di Denpasar, presiden yang dikenal sebagai penyayang seni itu tak menyembunyikan ekspresi takjubnya terhadap pentas tari yang begitu energik dengan dukungan tatabuhan gamelan yang gegap membuncah.

Pembina Tari : Komang Suarriati, S.Sn
Pembina Karawitan : I Made Pasca Wirsutha, S.Sn

3.Tari Manik Galih

Berorientasi pada tari Kebyar Legong yang pernah penata bawakan di tahun 2003 dalam ajang Pesta Kesenian Bali, penata mencoba mengkomposisikan kembali gerak-gerak yang ada dalam tari kebyar legong dengan pola pengembangan, agar terlihat kekinian tanpa meninggalkan pola yang sudah ada. Komposisi gerak yang dinamis yang ditampilkan diharapkan dapat membangkitkan semangat para generasi muda untuk tetap berkarya demi pelestarian kesenian Bali.

Pembina Tari : Komang Suarriati, S.Sn
Pembina Karawitan : I Made Pasca Wirsutha, S.Sn

4.Tari Gerumbungan
Tari Gerumbungan merupakan sebuah garapan tari yang menggambarkan seorang petani sedang membajak (nenggala) di sawah yang biasanya orang Buleleng menyebutnya sebagai megrumbungan. Kegiatan ini dapat kita lihat di Desa kaliasem , Buleleng. Dalam megrumbungan, petani menggunakanbeberapa ekor sapi yang dikaitkan pada sebuah kayu pemegang yang disebut “uga”, dan biasanya petani melakukan kegiatan ini sebelum menanam (memula) padi.
Berdasar dari konsep tersebut, penggarap tari mencoba membuat gerakan-gerakan tari yang menggambarkan seorang petani desa sedang membajak dengan menggunakan gerak, improvisasi, dan kreasi yang tidak meninggalkan unsur gerak dasar tari tersebut.

Penata Tari : Komang Suarriati
Penata Karawitan : Kadek Widiasa

Sedangkan Sanggar Seni Tripitaka menampilkan : 

1. Tabuh Kreasi Kalingga Murda
Kalingga Murda memiliki makna “sesuatu yang dijungjung tinggi”, merupakan sebuah interpretasi dari makna kearifan local yang luas. Dalam konteks ini, kearifan lokal yang dimaksud tidak hanya dalam cakupan desa Munduk atau kecamatan Banjar semata, namun juga bias diartikan kearifan local Bali dalam konteks universal.
Komposisi ini tetap menonjolkan ciri khas Gong Kebyar itu sendiri. Dalam komposisi ini penggarap memasukan komposisi gamelan gembyung yang merupakan gamelan khas dari desa Munduk dengan tidak mengurangi kekhasan dari substansi musik gembyung.

Penata Karawitan : Komang Budi Astrawan

2. Tari Mulat Sarira
Tari Mulat Sarira adalah sebuah tari garapan baru yang terklasifikasi ke dalam tari penyambutan. Mulat Sarira dalam konsepsi ajaran Hindu Bali berarti introspeksi diri yang diharapkan dapat membawa vibrasi positif terhadap perkembangan percaturan seni dan budaya Bali. Tari ini digarap apik oleh Ida Ayu Ketut Suciawani (alm) sebagai koreografer dan Putu Putrawan (alm) sebagai penata karawitan.

Pembina Tari : Putu Rima Febriana, S.Sn
Pembina Karawitan : Made Terip

3. Tari Wiranjaya
Tari Wiranjaya diciptakan oleh I Ketut Merdana dan kemudian dikembangkan oleh Putu Sumiasa salah satu seniman kenamaan Buleleng dari desa Kedis pada tahun 1957. Sebelum menjadi tari Wiranjaya, tari ini mengalami beberapa transformasi dalam tahap penciptaannya. Diawal terciptanya, tari ini dikenal dengan sebutan kebyar Buleleng Dauh Enjung dengan durasi tari hampir setengah jam, hingga akhirnya menjadi tari Wiranjaya seperti sekarang ini.
Tari ini bertemakan heroik, dengan mengangangkat ceritra Mahabarata, yakni segmen dimana Panca Pandawa Nakula dan Sahadewa sedang berlatih memanah. Tari ini sesungguhnya ditarikan oleh dua orang, namun sesuai dengan kebutuhan artistik koreografer, kadang kala tari ini disa dibawakan lebih dari dua orang.

Penata Karawitan : Made Terip
Penata Tari : Putu Rima Febriana, S.Sn

4. Tari Cendrawasih Bulelengan
Tari Cendrawasih merupakan tari yang mengisahkan tentang burung cendrawasih yang bercengkrama dan bercumbu rayu. Tari ini diciptakan oleh maestro Bali Utara yaitu I Gede Manik pada tahun 1956 di Desa Jagaraga. Pencipta menggarap tarian ini dengan gerakan unik, energik, dan penuh semangat seperti gerak-gerak tari kekebyaran ciptaan sang maestro sebelumnya, yang kini dilestarikan dan dikembangkan oleh ibu Luh Menek yang berasal dari Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng.
Terinspirasi dari burung cendrawasih dan semangat gerak tari kekebyaran khas Bali Utara, maka terciptalah tari Cendrawasih khas Buleleng.

Pembina Tari : Gede Arya Suryawan, S.ST
Penata Karawitan : Komang Budi Astrawan

Share Post :