Rapat Perihal Persiapan Lomba Ngelawar Pada Acara Twin Lake Festival Tahun 2019

  • Dinas Kebudayaan
  • 14 Juni 2019
  • Dibaca: 169 Pengunjung

Dalam Lomba Ngelawar Kuwir yang akan diadakan pada acara Twin Lake Festival Tahun 2019, Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng mengadakan rapat kepada para peserta lomba dari 9 Desa Pakraman wakil dari 9 Kecamatan di Kabupaten Buleleng. Lomba ngalawar dan mebat dilaksanakan guna menggali potensi daerah terutama masakan khas Bali yang lambat laun hanya dapat dinikmati namun tidak bisa mengolah dari merencanakan hingga menyajikan, Maka dari itu, diperlukan pelestarian budaya ngelawar dan mebat melalui kegiatan lomba. Tujuan dari kegiatan ini adalah dapat menumbuhkan, mengembangkan dan melestarikan minat peserta dalam merencanakan sampai menyajikan masakan khas Bali terutama nglawar dan mebat. 

Beberapa syarat dari lomba ngelawar ini adalah :

  1. Memasak ditempat dari proses sampai dengan siap saji dimeja penyajian
  2. Penyajian Lawar Daging kuwir/serati di lakukan berdasarkan hasil undian
  3. Setiap tim terdiri dari 5 (lima) orang sudah termasuk patus(pemimpin masak) + 2 orang penyaji
  4. Waktu 3 jam
  5. Kelengkapan bahan dibawa dari rumah
  6. Membuat lawar dari bahan 3 ekor kuwir dengan berat 8 Kg, menyajikan jenis tetandingan : Lawar merah dan lawar putih. Boleh juga menambahkan dengan  menyajikan jenis tetandingan seperti : lawar selem, lawar gedang, lawar blimbing, lawar klungah, lawar paku, lawar kacang panjang atau lawar nangka.
  1. Kuwir/Serati sudah bersih dibawa dari rumah
  2. Bumbu-bumbu dibawa dari rumah dan dibuat ditempat (bumbu belum jadi)
  3. Kelapa, Gedang, Blimbing, Klungah, Paku, Kacang Panjang dan Nangka di parut/ Rajang di tempat
  4. Penunjang disiapkan oleh masing-masing peserta sebagai bahan makanan pelengkap hidangan :
  • Nasi putih dan Air Mineral, piring/ingka dan sarana penyajian disiapkan oleh peserta
  • Sayur Ares dan sate siap saji disiapkan oleh peserta
  • Disajikan untuk 50 orang
  • Tempat penyajian disiapkan oleh panitia (meja hidangan, taplak dan tempat mebat)
  • Alat –alat masak tradisonal, taplak meja plastik, kompor biasa/gas dan alat-alat penyajian lainnya untuk mempermudah system kerja dengan hasil maksimal disiapkan selengkapnya oleh peserta.
  • Tidak diperkenankan menggunakan bahan penyedap yang bersumber dari zat kimia artinya memanfaatkan penyedap alami.
  • Pedoman buku atau lontar yang dijadikan acuan yakni DHARMA CARUBAN. Secara umum tidak ada pakem ngelawar, karena masing-masing daerah memiliki ciri tersendiri yang disebut : Pada Jangkep, Pada Nyangluh dan atep rasane.
  • Di Sajikan dalam bentuk prasmanan di meja yang telah di siapkan oleh panitia :

Untuk porsi  50 orang dan 1 (satu) paket  untuk dinilai (3 Juri) dan 1 (satu) lagi disajikan untuk porsi 5 orang undangan

     11. Peserta Mengenakan Pakaian Adat Madya.

Share Post :