Teknik Menarikan Tari Bali

  • Dinas Kebudayaan
  • 08 Januari 2019
  • Dibaca: 426 Pengunjung

Salah satu hasil paduan dari seni dan budaya di Bali adalah Tariannya. Banyak orang sepakat bahwa Tarian asal Bali merupakan tarian yang sangat dinamis. Musik, gerak tubuh, ekspresi serta kedipan mata yang secara rinci memiliki pakem atau aturannya sendiri. Tidak sembarang orang bisa menari tarian Bali sesuai aturan yang tepat. Oleh sebab itu butuh waktu lama bagi orang-orang yang bukan berasal dari Bali untuk mempelajari tarian Bali. Mempelajari tarian Bali selain dapat menjaga kelestarian budaya yang dimiliki, namun juga dapat memberikan pengaruh positif bagi tubuh. Karena tubuh banyak bergerak dan berkeringat, maka metabolisme dalam tubuh pun akan bagus.

Hal menarik dan unik dari tarian Bali yang membedakannya dengan tarian lainnya adalah dalam gerakan mata atau seledet. Kedua bola mata digerakkan (melirik) ke kanan dan/atau ke kiri bersamaan dengan gerakan dagu. Ketika nyeledet mata harus terbuka lebar dan tidak boleh dikedipkan. Dasar-dasar tari Bali garis besarnya terdiri dari tiga faktor utama yang disebut agem, tandang dan tangkep. Penjabaran dari ketiganya adalah sebagai berikut:

a. Agem adalah sikap pokok dalam tari Bali. Berdasarkan posisi berat badan, agem dibagi menjadi dua macam, yaitu agem kanan dan agem kiri. Agem          kanan berat badan bertumpu pada kaki kanan, sedangkan agem kiri berat badan bertumpu pada kaki kiri. Seperti halnya pada tari-tari tradisi (klasik)          lainnya, agem dalam tari Bali sudah mempunyai patokan-patokan baku. Agem terdiri dari bermacam-macam bentuk, misalnya: Mungkah
    lawang, ngerajasinga, Butawangasari, Napukkampuh, Ngeteg-pinggel, dan lain-lain.

b. Tandang adalah gerak-gerik yang sesuai dengan watak dari tokoh yang diperankannya. Termasuk dalam ruang lingkup tandang adalah teknik
    gerak dan keterampilan gerak dan kemampuan menyesuaikan gerak dengan musik pengiring tari. Tandang terdiri dari abah, yaitu perpindahan gerak          kaki menurut komposisi tari, dan tangkis yaitu perkembangan tangan seperti luk nagasatru, nerudut, dan ngelimat.

c. Tangkep adalah sikap akhir setelah seorang penari melakukan gerakan. Termasuk dalam ruang lingkup tangkep adalah ekspresi muka dan penafsiran        terhadap karakter tokoh diperankannya. Tangkep terdiri dari beberapa macam, misalnya: Luru, yaitu rasa yang luar biasa yang diwujudkan dengan              mimik; Encahcerengu, yaitu perubahan darisuatu mimik ke mimik yang lain; dan Maniscerengu, yaitu senyum sambil mengedipkan mata. Tangkep itu          adalah sangat menentukan kematangan tari. Tanpa penjiwaan, tari tidak nampak hidup.

Demikian agem, tandang, dan tangkep merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ketiga faktor tersebut mempunyai makna kesatuan antara wiraga, wirama, dan wirasa, sehingga secara keseluruhan disebutkan bahwa itulah yang disebut tari.

Share Post :