Ogoh-ogoh
merupakan salah satu tradisi masyarakat Bali dalam rangka menyambut perayaan
Hari Suci Nyepi. Tradisi ogoh-ogoh yang diselenggarakan sebelum perayaan Nyepi
ini memiliki makna dan sejarahnya.
Apa
Itu Ogoh-ogoh pada Hari Raya Nyepi?
Kata
ogoh-ogoh berasal dari kataahasa Bali "ogah-ogah" yang artinya
sesuatu yang digoyangkan. dilansir situs Kabupaten Badung, ogoh-ogoh adalah
tradisi masyarakat Bali untuk menyambut Hari Raya Nyepi yang biasa diadakan
sebelum perayaan Nyepi.
Ogoh-ogoh di Bali memiliki versi yang berbeda. Ogoh-Ogoh juga termasuk seni
patung yang berasal dari kebudayaan masyarakat Bali yang menggambarkan
kepribadian dari Bhuta Kala. Ogoh-ogoh merupakan sebuah benda yang besar dan
berbentuk boneka raksasa.
Makna Ogoh-ogoh pada Hari Raya Nyepi
Makna
ogoh-ogoh mencerminkan sifat manusia yang negatif. Ogoh-Ogoh juga mengandung
makna untuk mengekspresikan nilai-nilai religius dan ruang-waktu sakral
berdasarkan sastra-sastra agama. Selain itu, ogoh-ogoh merupakan karya kreatif
yang disalurkan melalui ekspresi keindahan dan kebersamaan.
Dalam
pelaksanaan tradisi ogoh-ogoh biasa dilakukan dengan parade atau pawai.
Pelaksanaan parade ogoh-ogoh memiliki filosofi yang diharuskan untuk manusia
saling menjaga alam dan sumber daya untuk tidak merusak lingkungan sekitarnya.
Parade
ogoh-ogoh dilakukan dengan diarak keliling desa maupun dipentaskan. Untuk yang
mengarak biasanya akan meminum arak untuk menandakan sifat buruk dari dalam
diri manusia. Berat yang dipikul saat mengarak akan diakhiri dengan membakar
ogoh-ogoh tersebut sampai habis. Parade ogoh-ogoh ini juga diadakan dari sore
hari sampai malam.
Sejarah Ogoh-ogoh pada Hari Raya Nyepi
Masih
merujuk pada situs Kabupaten Badung, sejarah ogoh-ogoh bermula sejak zaman
Dalem Balikang. Ada berbagai pendapata yang menyebut tentang awal mula
ogoh-ogoh, ada yang mengatakan mulanya ogoh-ogoh digunakan untuk upacara pitra
yadnya. Ada juga yang mengatakan tradisi ogoh-ogoh berawal dari tradisi Ngusaba
Ngong-Nging yang ada di desa Selat, Karangasem. Pendapat lain juga ada yang
menyatakan ogoh-ogoh muncul karena barong landung yang merupakan wujud dari
Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei (suami istri) yang memiliki wajah
buruk dan menyeramkan dan saat itu pula munculnya ogoh-ogoh.
Informasi
lain turut mengatakan tradisi ogoh-ogoh ada di tahun 70-80an. Lainnya juga ada
yang mengatakan bahwa ogoh-ogoh terlahir karena adanya pengerajin patung yang
merasa jenuh untuk membuat patung yang terbuat dari bahan keras dan memilih
membuat patung yang terbuat dari bahan yang ringan.
Terlepas
dari berbagai pendapat tentang asal usul ogoh-ogoh tersebut, sampai saat ini
masyarakat Bali selalu merayakan tradisi ogoh-ogoh untuk menyambut Hari Raya
Nyepi. Pada awalnya ogoh-ogoh ini terbuat dari kerangka kayu dan bambu setelah
itu kerangka akan dibungkus dengan kertas-kertas.
Seiring
perkembangan zaman, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ogoh-ogoh juga
semakin berkembang. Masyarakat Bali kini menggunakan bahan berupa besi dan
bambu yang telah dirangkai menjadi ayaman dan dibungkus dengan gabus atau
stereofoam dan dicat.
Tradisi Ogoh-ogoh Jelang Hari Raya Nyepi
Tradisi
ogoh-ogoh biasa dilaksanakan di Pengerupukan, sebelum Hari Raya Nyepi.
Pengerupukan adalah hari sebelum Hari Raya Nyepi atau tilem sasih kesanga.
Tradisi ogoh-ogoh biasa digelar dengan perayaan parade atau pawai dengan
diiringi irama gamelan khas Bali yaitu bleganjur patung.
·
Sebelum acara dimulai, para peserta
upacara biasanya melakukan minum-minuman keras tradisional (arak).
·
Pada umumnya, ogoh-ogoh diarak menuju sema
(tempat persemayaman umat Hindu sebelum dibakar dan pada saat pembakaran
mayat), kemudian ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa tersebut
dibakar.
Sumber : https://news.detik.com/berita/d-6631461/makna-ogoh-ogoh-pada-hari-raya-nyepi-dan-sejarah-tradisinya.