(0362) 330668
disbudbuleleng@gmail.com
Dinas Kebudayaan

Transmisi Keseniman

Admin disbud | 27 Oktober 2021 | 16 kali

Transmisi Kesenimanan; Filosofi Bermusik Ala Sumiasa.
Seperti juru kendang Bali pada umumnya, dalam berbagai kesempatan Sumiasa selalu memperlihatkan kemampuannya dalam mengolah timbral khas instrumen perkusif itu.
Namun tidak seperti kebanyakan juru kendang lain di bawah generasinya, Ia tidak pernah menceritakan secara detail darimana Ia mendapatkan kemampuannya, terlebih lagi membandingkan determinan-determinan (gaya kolektif) antar pemain kendang untuk generasi di atasnya.
Sumiasa hanya mengatakan bahwa karir kesenimanannya ditempa oleh ayahnya yang bernama Nyoman Sukandia dan pamannya I Ketut Merdana. Sumiasa bahkan dengan bangga mengatakan bahwa dirinya ditunjuk sebagai pemimpin orkestra digroup desanya sebagai seorang juru gisi tabuh (juru ugal) karena dianggap mampu mengakomodir musisi lain, terlebih lagi opini ini diperolehnya dari sosok yang dikagumi, ayah dan pamannya. Saat itu komunitas untuk perkumpulan orkestra ini dinamai sebagai sekaa gong Eka Jaya Paksi (desa Kedis, Busungbiu, Buleleng) dan secara aktif melakukan kegiatan penciptaan diranah musik dan tari kebyar. Semakin populernya event mebarung secara tidak langsung membawa kebyar sebagai budaya populis gamelan Bali setidaknya membawa satu alasan konstruktif bagi komunitas ini untuk menciptakan karya-karya baru yang tidak pernah dibuat sebelumnya.
Tidak hanya produktif melakukan kegiatan penciptaan diwilayah komposisi baru, tampaknya dua pimpinan komunitas ini, yakni Sukandia dan Merdana mulai mempersiapkan kader-kader (musisi handal) untuk menggantikan mereka saat sudah pensiun. Sumiasa (dalam wawancara 27 September 2016, saat bertepatan dengan ulang tahunnya) mengatakan bahwa karir kesenimanannya sebagai juru kendang telah diasah sejak Ia duduk dibangku SR (akronim untuk Sekolah Rakyat, saat ini ; SD).
Lebih lanjut Ia mengakui sangat terpukau oleh permainan kendang pamannya, yakni I Ketut Merdana namun enggan untuk belajar secara langsung dari pamannya. Hal ini selalu diceritakan secara berulangkali dalam kesempatan yang berbeda olehnya, salah satu hal yang langka dijumpai hingga saat ini (informasi yang diperoleh rentan terhadap hal-hal subjektif), bahwa informasi yang diberikan selalu sama—mungkin ini adalah refleksi objektif dari seorang Sumiasa.
Sumiasa mengatakan bahwa bermain kendang tunggal adalah kemampuan individualistik yang tidak bisa dikerjakan secara otentik dalam setiap waktu. Ini tentu bukan bahasa verbal darinya, namun kemampuannya belajar dengan cara maguru kuping dan mempraktikannya secara kontinuitas telah memberikanya bekal yang lebih dari cukup untuk kemudian mereintepretasi, mengkamuflase secara subtil pola-pola permainan kendang tunggal milik pamannya, Merdana. Kesempatan yang diberikannya sebagai juru kendang baru Eka Jaya Paksi selepas setelah pendidikannya di salah satu SMEA Yogjakarta semakin memberikannya pengayaan dan elaborasi yang kompleks dalam bermain kendang tunggal. Ketut Sumirtha (anak Merdana) yang juga sepupu Sumiasa mengatakan bahwa kakaknya itu telah dipersiapkan jauh-jauh hari oleh ayahnya sebagai juru kendang dan kreator musik untuk menggantikannya.
Kendang tunggal adalah salah satu gaya permainan kendang Bali yang dilakukan secara individual dalam upaya menghasilkan timbral kompleks sebagaimana dihasilkan dalam kendang berpasangan. Menurut Sumiasa gaya individual dalam bermain kendang tunggal adalah modal yang paling berharga untuk menunjukan diferensiasi permainan dengan juru kendang lainnya. Sebagai seorang juru kendang penulis mengamati bahwa Sumiasa memiliki style individu yang khas tidak pernah ditiru oleh generasi manapun di zamannya. Ini bukan berarti gaya permainan kendangnya tidak disukai (walaupun terlalu subjektif untuk membahasakannya), melainkan Ia menaruh isian-isian yang bervariatif untuk setiap siklus gongannya. Tingkat perbedaan unit pola hampir dikerjakan secara halus, terkamuflase dalam ketukan not yang berbeda sehingga menciptakan kesan perseptual yang berbeda. Sumiasa juga mengatakan pada penulis bahwa “dadi tukang kendang harus dueg ngakalin bayu, dije disne mesuang bayu, dije disne ngutangin bayu, nak onyang ade tongos ne to”. Mungkin ini adalah istilah lain untuk ngunda bayu dalam bermain kendang tunggal. Sumiasa mengatakan bahwa karakteristik komposisional musik kebyar Buleleng tidak sepenuhnya rengas sebagaimana tanggapan aklamatif orang di Bali Selatan. Juru kendang harus mempertaruhkan reputasinya untuk hal ini. Baginya (karakter musik di desa Kedis) permainan dinamikan seperti akselerasi tempo dan perlambatan memberikan peluang besar pengumpulan fokus terhadap musik dan koreografi dalam tari kebyar seperti Wiranjaya dan Trunajaya.
Beberapa argumen penting lainnya yang disampaikan Sumiasa kepada penulis mengenai pengalaman artistiknya sebagai musisi sesungguhnya memberikan pengayaan yang penting dalam terminologis permainan kendang tunggal di Bali. Istilah-istilah seperti ngunda bayu, ngewiles, Bala-Duara, nabdabin dan berbagai pendekatan filosofis lainnya telah memproyeksikan kebiasaan permainan kendang tunggal kita saat ini. Terdengar agak tendensius, Sumiasa mengatakan bahwa juru gisi tabuh dan juru kendang memiliki porsi apresiasi yang lebih istimewa ketimbangan instrumen lainnya dalam orkestra kebyar. Ia mengatakan bahwa hanya kedua instrumen ini yang mampu menghargai hubungan-hubungan vertikal antar musisi lewat komando vsiual yang diberikannya.
Menjadi seorang juru kendang dan ugal baginya adalah kebanggaan tersendiri. Ia menganalogikan bahwa kedua peran yang dianggapnya strategis bagi kelancaran penampilan sebuah komposisi musik selayaknya seorang supir dan mobilnya. “Yen supire handal, mobile pasti melah pejalanne, penumpange pasti selamat sampai tujuan”, ini adalah ungkapan yang diperoleh dari pengalamnya sebagai seorang pemain kendang dan juru ugal.
Sumiasa mengakaui bahwa dirinya merasa lebih muda ketika menabuh—apalagi memainkan instrumen yang paling disukainya, yakni kendang. Ketika memainkan reportoar kebyar, Ia merasa bahwa karakter musik dengan letusan keras akor metallic “byar” adalah mewakili spirit mudanya. Saat awal perjumpaan penulis dengannya, masih segar dalam ingatan penulis, Sumiasa memainkan salah satu meter terpanjang dalam komposisi musik untuk Trunajaya, yakni tekstur pangipuk Trunajaya panjang. Sumiasa mengolah semua kemungkinan suara kendang dengan sangat baik dan jernih. Hal yang mustahil dilakukan oleh musisi yang saat itu berumur 84 tahun. Sumiasa memainkan polanya dengan dinamis, terdengar tanpa repetisi. Unit antar polanya terjalin cukup halus, sebelum diarahkan menuju ordinal frase akhir untuk setiap siklusnya.
Untuk setiap unit pola, Sumiasa secara jujur mengakui bahwa keseimbangan pengolahan timbral kendang menjadi hal yang sangat penting untuk diperhatikan, apalagi ketika memainkan pola dengan meter yang panjang. Namun dalam kecepatan tertentu, nalurinya selalu terketuk untuk mempermainkan konteks timbral “dit” sebagai sumber energy yang dianggapnya mampu membangkitkan semangat musisi lainnya. Pola ini disebutnya dengan istilah “Bala Duara” . Sumiasa juga menekankan pentingnya sensibilitas dalam merespon setiap movement / aksen/angsel yang diberikan oleh penari. Baginya, sebagai juru kendang yang baik tidak saja hanya terampil secara virtusitik dengan pendekatan aural, tetapi ketika dihadapkan dengan penari juru kendang setidaknya secara responsif mengantisipasi setiap pergerakan penari. Ia juga menjelaskan bahwa pola-pola kendangan yang dimainkannya sangat dipengaruhi oleh karakter tarian yang dibawakan.
Masa Transisi dan Apresiasi
Peristiwa G30S/PKI tidak saja membawa pengaruh signifikan terhadap kehidupan sosial-politik masyarakat Indonesia, tetapi telah menghancurkan sendi-sendi kesenian yang telah terbangun dengan mapan pada periode sebelumnya. Pembantaian besar-besaran seniman yang dicurigai sebagai anggota LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat yang berafiliasi dengan PKI) telah membuat stagnan kegiatan kesenian saat itu. Pada tahun 1963, LEKRA disinyalir telah beranggotakan 10.000 seniman yang tersebar diberbagai pelosok Indonesia. Mereka adalah sosok yang berkerja diwilayah seni pesanan, menjadikan kesenian sebagai propaganda politik untuk merealisasikan realism artistik sosial. Tari Nelayan, Tani, Tenun adalah salah satu contoh dari seni pesanan itu.
Peristiwa mencekam tersebut terjadi tanpa terkeculai di desa Kedis. Seperangkat gamelan kebyar milik Merdana dan iparnya dibakar oleh oknum yang tidak diketahui. Bahkan dalam lawatan kedua untuk penelitiannya, Ruby Ornstein seorang etnomusikolog, mendapat sebuah kabar bahwa Merdana telah dibunuh dalam peristiwa yang mencekam itu. Selama beberapa tahun setelah peristiwa mencekam tersebut, gagap gempita kebyar di desa Kedis benar-benar jauh dari aktivitas “bebunyian” gamelan kebyar. Saat keadaan benar-benar aman, dan trauma masyarakat perlahan sudah terobati, sosok Sumiasa bersama keluarga menjadi figure penyambung keberlangsungan tradisi itu. Harus kita akui bahwa Sumiasa adalah figur, inisiator yang menyususn kembali “pecahan kaca” masa lalu seni kebyar di Kedis hingga bisa didengarkan sampai saat ini.
Bersama sepupu dan iparnya, Sumiasa merekonstruksi beberapa karya lama, seperti Kebyar Buleleng yang dinamai secara kolektif oleh sekaa Gong Banda Sawitra (generasi kedua Eka Jaya Paksi) sebagai Wiranjaya. Sumiasa juga merekonstruksi beberapa tari dan komposisi kebyar yang lainnya seperti tari Palawakya, tari Merpati, Nelayan, tabuh Gambang Suling, tabuh Jayengrana, dan beberapa lagi. Disamping jasanya sebagai penyambung lintas generasi di desanya, Sumiasa secara tak langsung sesungguhnya telah mewariskan apa yang nyaris ditelan oleh masa kelam sejarah. Sumiasa mengkemasnya dengan hati-hati, selain juga secara aktif mencipta beberapa komposisi tabuh kreasi.
Pengalamannya ketika menimba ilmu di Yogjakarta dan tinggal di rumah Pak Cokrowasito (mertua Prof. Wenten) memberinya begitu banyak gending dalam karawitan Jawa. Sumiasa menaruh perhatian yang cukup besar terhadap kedua kebudayaan ini (Bali dan Jawa). Oleh karenya, Sumiasa menciptakan komposisi Lumbung Desa dan Kuntul Angelayang dimana bagian akhir dari kedua komposisi baru ini memasukan langgam lela ledung yang diasimilasi dalam format kebyar. Sumiasa adalah sosok yang sangat peka terhadap fenomena bebunyian. Sumiasa menceritakan dirinya ketika berada disalah satu stasiun kereta api di Yogjakarta, Ia mendengar bunyi lonceng jam besar yang kemudian dipakainya sebagai awal dari tari Merpati bersama pamannya Ketut Merdana.
Tidak Hanya sebagai figur yang mentautkan keberlanjutan tradisi pendahulu menuju generasi penerusnya, melalui Sumiasa kita bisa mengetahui interkonektivitas antar seniman di Bali dan Jawa. Sebagai seorang yang diperhitungkan dibidangnya, Sumiasa setidaknya telah melakukan beberapa lawatan dengan misi kesenian bersama pamannya, Ketut Merdana, dan beberapa koleganya seperti Gede Manik, Wayan Beratha, Made Bandem, Nyoman Sumandhi, Bulan Trisna Jelantik, dan beberapa tokoh ternama lainnya. Negara yang pernah dikunjungi dalam hubungannya membawa misi kesenian Indonesia antara lain, Pakistan, Philipina, Tiongkok, Jepang, Australia, Uni Soviet dan beberapa negara lainya.
Pengalaman kesenimanan yang dilaluinya selama berpuluh tahun penulis kira sudah saatnya diapresiasi secara pantas. Disamping sebagai seniman tulen, Pekak (panggilan penulis untuk Putu Sumiasa) adalah sosok yang memberikan pemahaman pada penulis bahwa pendidikan itu tidak hanya secara formal didapatkan di institusi-institusi pendidikan, tetapi seni adalah bagian dari pendidikan itu sendiri. Pekak sempat mengatakan “cen ane kepilih, pendidikan yang bagus untuk seni, apa seni ane bagus untuk pendidikan?” sebuah pertanyaan yang penulis kira tidak bisa didapatkan dari orang-orang seumurannya.
Oleh : I Ketut Pany Ryandhi (Bidang Kesenian)